Pernahkah kamu merasa lelah dengan dirimu sendiri?
Terlalu sering mengkritik diri, merasa tidak cukup baik, atau selalu membandingkan diri dengan orang lain?
Atau mungkin, kamu merasa bingung karena belum bisa menerima kekuranganmu dan terus-menerus berusaha menjadi versi yang lebih sempurna?
Jika iya, kamu tidak sendirian. Penerimaan diri adalah salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan hidup banyak orang, dan itu memengaruhi kesehatan mental kita secara langsung. Banyak dari kita yang merasa sulit untuk menerima diri karena ekspektasi yang tinggi atau karena kita takut bahwa jika kita menerima kekurangan, kita akan berhenti berkembang.
Namun, kenyataannya adalah penerimaan diri bukanlah sesuatu yang datang begitu saja ialah proses yang membutuhkan waktu dan usaha.
Penerimaan diri sering kali disalahpahami. Banyak orang menganggap bahwa jika kita menerima diri kita apa adanya, itu berarti kita menyerah untuk menjadi lebih baik. Padahal, penerimaan diri justru menjadi fondasi untuk tumbuh dan berkembang. Tanpa menerima diri kita yang utuh dengan semua kelebihan dan kekurangan dapat menjadikan kita tidak akan bisa maju dengan langkah yang sehat dan positif.
Menurut Dr. Kristin Neff, seorang psikolog yang mengembangkan konsep self-compassion (belas kasih pada diri sendiri), penerimaan diri adalah salah satu kunci dalam menjaga kesehatan mental. Penerimaan diri bukan berarti kita tidak berusaha untuk lebih baik, tetapi lebih kepada berhenti menghakimi diri dan memberi ruang bagi diri kita untuk belajar dan berkembang tanpa tekanan.
Mengapa menerima diri itu sulit?
Menerima diri tidak selalu mudah, terutama di dunia yang penuh dengan standar-standar yang harus kita capai. Dari media sosial yang penuh dengan citra sempurna hingga ekspektasi dari orang lain—banyak faktor yang membuat kita merasa tidak cukup baik atau tidak layak.
Menurut Brené Brown, seorang peneliti di bidang keberanian dan kerentanannya, penerimaan diri sering kali terhalang oleh rasa takut akan penolakan. Kita takut bahwa jika kita menunjukkan kelemahan atau kekurangan, kita akan ditinggalkan atau tidak diterima oleh orang lain. Namun, justru keberanian untuk menerima diri sendiri, termasuk kelemahan dan ketidaksempurnaan, adalah yang membuat kita lebih kuat dan lebih autentik.
Penerimaan diri bukanlah hal yang instan. Ia adalah proses yang berkelanjutan, yang membutuhkan kesabaran dan perhatian penuh pada diri sendiri. Ada kalanya kita merasa berhasil menerima diri, tetapi kemudian muncul keraguan dan rasa tidak cukup baik kembali. Itu adalah hal yang normal.
Menurut Dr. Tara Brach, seorang psikolog dan penulis buku Radical Acceptance, penting untuk terus memberi diri kita izin untuk merasa dan merasakan. Terkadang, kita hanya perlu berdiam sejenak, mengakui perasaan kita, dan memberikan ruang untuk kita menerima diri kita apa adanya, meskipun itu tidak sempurna.
Penerimaan diri bukanlah tentang mencapai suatu kondisi “ideal,” tetapi lebih tentang perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya dengan segala kelebihan dan kekurangan.
mari kita coba refleksikan bersama:
Apa yang membuatmu merasa sulit untuk menerima diri sendiri?
Bagaimana kamu bisa lebih lembut pada dirimu dalam menghadapi kekurangan yang ada?
Apa langkah kecil yang bisa kamu ambil hari ini untuk mulai menerima dirimu apa adanya tanpa rasa malu atau penilaian negatif?
Penerimaan diri adalah salah satu proses terpenting dalam menjaga kesehatan mental kita. Tidak ada yang bisa menghindar dari kekurangan atau kegagalan itu sebagai bagian dari menjadi manusia. Namun, dengan menerima diri kita yang utuh, kita memberi diri kita kesempatan untuk berkembang dengan cara yang lebih sehat, tanpa tekanan yang tidak perlu.
Jangan lupa, perjalanan menuju penerimaan diri bukanlah tentang mencapai kesempurnaan, tetapi tentang belajar untuk mencintai diri kita dengan segala yang ada, baik dan buruk.
Referensi:
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
- Brach, T. (2003). Radical Acceptance: Embracing Your Life With the Heart of a Buddha.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
