Pernahkah kamu merasa lelah karena terus menuntut diri menjadi sempurna?
Ingin selalu tampil kuat, pintar, produktif, dan tanpa celah?
Namun di balik semua itu, terselip perasaan lelah, cemas, bahkan merasa “tidak pernah cukup”?
Kalau iya, kamu tidak sendiri.
Banyak dari kita tumbuh dengan keinginan untuk menjadi versi terbaik dari diri. Tapi tanpa disadari, kita terjebak dalam jerat perfeksionis dan semakin sulit menerima bahwa menjadi manusia berarti juga punya kekurangan.
Sering kali, kita menganggap kelemahan atau kekurangan sebagai “cacat” yang harus segera dihilangkan. Padahal, justru karena ada sisi rapuh itulah kita jadi nyata. Jadi manusia.
Brené Brown, dalam bukunya The Gifts of Imperfection, menulis bahwa keberanian muncul bukan saat kita terlihat sempurna, tapi saat kita berani menampilkan diri kita apa adanya—dengan segala luka, kekurangan, dan ketidaksempurnaan yang kita miliki.
Kadang kita takut menerima diri karena khawatir jadi malas berkembang. Tapi justru sebaliknya, penerimaan diri adalah dasar yang sehat untuk bertumbuh.
Ketika kita menerima kelemahan sebagai bagian dari proses belajar, kita jadi lebih sabar, lebih lembut pada diri sendiri, dan tidak mudah putus asa.
Menurut Kristin Neff, self-compassion (belas kasih pada diri sendiri) adalah salah satu faktor kunci dalam menjaga kesehatan mental, khususnya untuk mereka yang sering merasa tidak cukup baik.
Salah satu luka terdalam manusia adalah keyakinan bahwa ia hanya layak dicintai jika sempurna.
Padahal, cinta yang tulus termasuk cinta pada diri sendiri lahir justru dari keberanian untuk menerima dan berkata, “Aku punya kekurangan, tapi aku tetap pantas dihargai.”
Mari kita refleksikan bersama:
Bagian mana dari dirimu yang selama ini paling sulit kamu terima?
Jika kamu melihat sahabatmu memiliki kekurangan yang sama, bagaimana kamu akan memperlakukannya?
Apa yang akan berubah jika kamu mulai bersikap lebih lembut pada dirimu sendiri?
Ketidaksempurnaan bukan alasan untuk malu. Ia adalah bagian dari kisahmu yang menjadikan kamu unik, nyata, dan terus belajar.
Daripada menghabiskan tenaga untuk menghapus semua “cela”, bagaimana jika hari ini kamu mulai belajar berdamai dengannya?
Karena kadang, yang sebenarnya kita butuhkan bukan perbaikan tapi penerimaan.
Referensi:
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- Journal of Counseling Psychology (2020). The Role of Self-Acceptance in Psychological Well-Being.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
