Pernahkah kamu merasa kelelahan bukan karena pekerjaan, tapi karena terus-menerus mencoba menjadi versi yang “layak diterima”?
Layak tampil di media sosial, layak dibanggakan oleh keluarga, layak untuk dicintai?
Banyak dari kita hidup dalam tekanan yang tak terlihat untuk selalu menjadi “baik”, “berhasil”, “menyenangkan”, dan kalau bisa, “sempurna”.
Tapi kenyataannya, semakin kita mencoba menyembunyikan sisi rapuh dan cacat kita, semakin jauh kita dari ketenangan.
Menerima diri sendiri bukan tentang mengabaikan kekurangan. Tapi tentang mengakui bahwa kita punya batas, dan itu bukan kegagalan. Bahwa kita tidak selalu kuat, dan itu manusiawi.
Dalam praktik psikologi, konsep ini dikenal sebagai self-acceptance menerima keseluruhan diri, baik kelebihan maupun kekurangannya. Penelitian dari Journal of Happiness Studies menunjukkan bahwa penerimaan diri berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan psikologis. Semakin kita menerima diri, semakin kecil tekanan yang kita rasakan untuk “menjadi orang lain”.
Apa yang akan berubah dalam hidupmu jika kamu berhenti menyalahkan dirimu atas hal-hal yang tidak bisa kamu ubah?
Kadang kita lupa bahwa orang lain juga sedang berjuang. Bahwa di balik wajah yang tenang, bisa jadi mereka sedang menyembunyikan kegelisahan yang sama seperti kita. Ketika kita belajar menerima orang lain dengan perbedaan, kekurangannya, dan cara berpikir yang tak selalu cocok kita membuka ruang empati, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk diri sendiri.
Di sisi lain, kita juga hidup berdampingan dengan begitu banyak perbedaan. Sering kali kita sulit menerima orang lain yang tidak sesuai dengan nilai atau cara pandang kita. Tapi saat kita gagal menerima orang lain, kita sering juga jadi keras pada diri sendiri. Kenapa ya?
Karena standar yang kita terapkan ke orang lain, sering kali adalah bayangan dari standar yang kita pakai untuk menilai diri sendiri. Ketika kita menuntut kesempurnaan dari luar, kita juga diam-diam menekan diri sendiri untuk selalu terlihat benar, berhasil, dan ideal.
Belajar menerima orang lain bukan berarti setuju dengan semua pilihan mereka. Tapi itu tentang membiarkan mereka menjadi diri sendiri, sambil kita pun memberi izin untuk menjadi versi paling jujur dari diri kita.
Menerima orang lain bukan berarti membenarkan semua tindakan mereka. Tapi itu tentang memilih untuk melihat mereka sebagai manusia, bukan sebagai proyek yang harus diperbaiki.
Maka, mulai saat kita memberi ruang untuk orang lain menjadi dirinya sendiri, kita pun perlahan belajar bahwa kita pun pantas mendapatkan ruang itu.
Mari kita coba refleksikan bersama:
Seberapa sering kamu memaksa dirimu untuk terlihat “baik-baik saja” di hadapan orang lain?
Pernahkah kamu menilai seseorang tanpa benar-benar tahu ceritanya?
Apa rasanya jika hari ini kamu mengizinkan dirimu tampil apa adanya, tanpa editan, tanpa pencitraan?
Apakah kamu bisa menyukai dirimu sendiri bahkan di hari-hari ketika kamu merasa gagal?
Apakah kamu memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda pandangan dan tetap merasa dihargai?
Jika kamu tidak harus membuktikan apa-apa pada siapa pun, siapa dirimu sebenarnya?
Kesehatan mental bukan tentang selalu bahagia. Tapi tentang merasa aman di dalam tubuh kita, dalam pikiran kita, dan dalam hubungan kita. Perasaan aman itu tumbuh dari penerimaan. Penerimaan diri dan penerimaan terhadap orang lain berjalan beriringan. Saat kita ramah pada diri sendiri, kita lebih mudah bersikap welas asih pada sesama. Sebaliknya, ketika kita belajar memahami orang lain, hati kita juga melunak terhadap kelemahan diri.
Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk lebih—lebih sukses, lebih menarik, lebih sempurna—kadang yang paling menyembuhkan adalah sikap cukup. Cukup menjadi dirimu sendiri. Cukup memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi mereka.
Karena pada akhirnya, kedamaian mental tidak datang dari pujian atau validasi. Ia tumbuh dari tempat yang sunyi saat kita mampu berkata dalam hati, “Aku boleh menjadi aku. Dan mereka boleh menjadi mereka.”
Cobalah untuk berkata pada diri:
“Aku tahu aku belum sempurna, tapi aku tidak harus membenci diriku sendiri untuk berubah.”
“Aku tahu orang lain tidak selalu mengerti, tapi aku bisa memilih untuk tidak selalu menghakimi.”
Mungkin inilah bentuk cinta paling dalam menerima, tanpa syarat.
Referensi:
- MacInnes, D. L. (2006). Self-esteem and self-acceptance: Psychological well-being in adults with mental illness. Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- Journal of Happiness Studies. (2014). The Role of Self-Acceptance in Well-being.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
