Pernah nggak sih, kamu ngerasa capek terus-terusan, padahal kamu nggak ngapa-ngapain yang berat secara fisik? Rasanya seperti semua semangat disedot habis. Bangun pagi nggak semangat, kerja serasa hambar, dan kamu mulai mempertanyakan, “Ini semua buat apa, sih?”
Kalau kamu pernah (atau sedang) merasa seperti itu, bisa jadi kamu mengalami yang namanya burnout sebuah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang disebabkan oleh stres berkepanjangan.
Banyak orang berpikir burnout cuma terjadi karena pekerjaan yang menumpuk. Padahal, burnout bisa muncul dari tekanan dalam keluarga, pergaulan sosial, atau bahkan… tekanan dari diri sendiri. Kita terlalu keras berusaha jadi versi “sempurna”, sampai lupa bahwa manusia itu nggak harus selalu kuat dan produktif.
Mari kita coba refleksikan bersama:
Apa hal yang selama ini kamu paksakan dalam hidupmu?
Kapan terakhir kali kamu benar-benar memuji diri sendiri tanpa tapi?
Jika kamu memperlakukan sahabatmu seperti kamu memperlakukan dirimu sendiri, apakah dia akan merasa dicintai?
Apa yang akan berubah jika kamu mengizinkan dirimu untuK cukup?
Salah satu cara untuk mulai pulih dari burnout adalah belajar menerima diri sendiri. Bukan berarti pasrah dan nggak mau berkembang, tapi lebih ke: berdamai dengan kekurangan, memaafkan kegagalan, dan menyadari bahwa kita tetap berharga meskipun tidak selalu maksimal.
Kamu nggak harus terus-menerus jadi hebat untuk layak dicintai, terutama oleh dirimu sendiri.
Itu gapapa kok, terdapat cara yang dapat kita lakukan nih!
- Sadari dan akui perasaanmu. Nggak apa-apa untuk merasa lelah. Validasi itu penting.
- Beri ruang untuk istirahat. Jangan merasa bersalah karena mengambil waktu untuk dirimu sendiri.
- Cari dukungan. Cerita ke teman, journaling, atau konsultasi ke psikolog bisa sangat membantu.
- Latih self-compassion. Perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan orang yang kamu sayangi.
Oke, Teman Bila mulai saat ini kita coba atur kegiatan kita dan jangan berlebihan yaa. Luangkan waktu untuk dirimu rehat, karena rehat bukan membuang waktu. Namun, menjadi waktu untuk membuat energi bagi dirimu agar lebih optimal. Tidak perlu merasa bersalah ya, kamu hebat.
Referensi:
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103–111.
Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
WHO (2019). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases.
