“Belajar Bilang Nggak: Tentang Batasan, Kesehatan Mental, dan Menerima Diri Tanpa Rasa Bersalah”

Pernah ngerasa capek banget karena terlalu banyak bilang “iya” ke orang lain padahal dalam hati kamu pengen banget bilang “nggak”? Atau kamu takut ditinggalin, dianggap egois, atau malah dicap sombong cuma karena kamu ingin jaga jarak?


Atau pernah nggak sih, kamu bilang “iya” padahal sebenarnya pengen banget bilang “nggak”? Atau kamu terus bantuin orang lain walau dirimu sendiri lagi nggak baik-baik aja?
Kalau iya, mungkin ini saatnya kamu belajar bikin batasan buat orang lain, dan yang lebih penting: buat diri sendiri.


Boundaries itu semacam pagar tak terlihat yang kita pasang untuk melindungi diri secara emosional, mental, bahkan fisik. Batasan ini bukan soal jadi egois, tapi soal tahu kapan harus berkata cukup dan bagaimana menjaga diri agar tetap sehat, utuh, dan waras. Tanpa boundaries, kita bisa kehilangan diri sendiri, terjebak di situasi yang menguras energi, dan lama-lama bisa merusak kesehatan mental.


Kenapa banyak dari kita sulit menetapkan batasan?
Alasannya bisa macam-macam:
Takut dibilang jahat
Nggak enakan
Pengen diterima dan disukai
Merasa tanggung jawab atas perasaan orang lain

Padahal, hidup tanpa batasan bisa bikin kita burnout, resentful (kesal yang dipendam), dan merasa kehilangan kendali atas hidup sendiri.
Penerimaan Diri: Langkah Awal Menentukan Batasan Sehat
Supaya bisa bikin boundaries yang sehat, kita perlu menerima diri sendiri dulu, percaya bahwa kita layak punya ruang aman, kita berhak bilang “tidak”, dan kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang.


Menerima diri bukan cuma tentang menerima kelemahan, tapi juga menghargai kebutuhan diri. Karena kamu juga penting.

Mari kita coba refleksikan bersama:
Kapan terakhir kali kamu memaksakan diri demi menyenangkan orang lain?
Apa kamu sering merasa bersalah setelah bilang “nggak”?
Hal apa yang sebenarnya kamu butuhkan dari orang-orang di sekitarmu, tapi nggak pernah kamu ungkapkan?
Apa bentuk cinta yang ingin kamu beri ke diri sendiri, tapi belum kamu izinkan?


Langkah-Langkah Kecil Membuat Batasan yang Sehat:
Mulai dari yang sederhana. Contoh: “Maaf, aku nggak bisa ikut sekarang. Aku butuh istirahat.”


Kenali emosi tidak nyaman. Rasa kesal, capek, atau terpaksa bisa jadi sinyal batasan yang dilanggar.
Belajar bilang “tidak” tanpa penjelasan panjang. Kamu nggak harus selalu membenarkan keputusanmu. Sadari bahwa kamu bukan penolong dunia. Membantu orang lain itu baik, tapi nggak harus mengorbankan dirimu.

Referensi:

Cloud, H., & Townsend, J. (1992). Boundaries: When to Say Yes, How to Say No to Take Control of Your Life.
Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection: Let Go of Who You Think You’re Supposed to Be and Embrace Who You Are.
American Psychological Association (APA). (2020). Setting Boundaries to Improve Well-Being. [www.apa.org]

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *