Siap Menjadi yang Terbaik Sesuai Versi Kamu?

Di tengah dunia yang penuh tuntutan, kita sering kali tanpa sadar membandingkan diri dengan orang lain melihat pencapaian teman sebaya, standar kesuksesan di media sosial, atau ekspektasi keluarga. Akibatnya, kita justru kehilangan arah dan mulai meragukan diri sendiri. Ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental kita, terutama ketika kita merasa tidak cukup baik, bahkan untuk diri sendiri.

Seringkali kita membanding-bandingkan diri dengan kesuksesan orang lain. Ngerasa enggak sih kalau hidup gue kok gini-gini aja ya? Atau kapan ya gue bisa sesukses dia, padahal gue udah berusaha banget?

Pada nyatanya seseorang yang sudah berhasil atau sukses memperolehnya pun tidak instan, telah melewati berbagai tantangan dan kegagalan.

Setiap orang pasti pernah merasa ingin menjadi yang terbaik. Tapi, “terbaik” seperti apa sih yang sebenarnya kita kejar? Apakah terbaik versi diri sendiri, atau versi orang lain?

Padahal, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukanlah soal kesempurnaan, tapi soal penerimaan dan pertumbuhan.

Menjadikan standar kesuksesan orang lain membuat kita cape, merasa tidak puas selalu ingin lebih, dan lebih mengikuti apa yang orang lain capai sebagai patokan.

Memotivasi diri dari kesuksesan itu enggak salah, yang salah terlalu terobsesi dan berlebihan sehingga kita menjadikan kesuksesan orang lain sebagai pencapaian yang baru dikatakan berhasil. Padahal standar kesuksesan itu berbeda-beda dan gapapa kok kita berjalan perlahan dan ikuti kata hati atas keinginan yang kita harapkan

Kalau ikutin standar orang lain enggak akan ada habisnya, yang ada kita cape dan enggak akan puas terus..

Coba kita refleksikan bersama:
Apakah selama hidupmu sudah pernah meluangkan waktu untuk dirimu?
Apa kamu pernah melakukan sesuai dengan hatimu tanpa paksaan dan mengikuti hati serta pikiranmu?

Kalau jawabannya, memang belum pernah. Gapapa kok, yuk kita coba sekarang bersama-sama ya.
Pertama, kita coba pahami adan kenali diri.
Bisa dengan mengetahui dengan tanyakan pada diri, misalnya:
Apa makanan favoritmu?
Keahlianmu lebih dominan di bidang apa?
Kamu ngerasa kesel ketika?

Kedua, menerima diri apa adanya.
Dengan coba deeptalk dengan diri, menyampaikan kata maaf dan terima kasih sudah bertahan sampai saat ini.

Ketiga, self care atau merawat diri.
Merawat diri ini, baik kesehatan jasmani maupun rohani diri.
Misalnya, dengan rutin meluangkan untuk olahraga dan makan-makanan yang bergizi. Selain itu, menjaga emosional kita agar tetap stabil, dan tidak memaksakan diri.

Self care adalah cara seseorang yang peduli dengan dirinya sendiri, bukan berarti egois atau narsis. Tetapi, cara untuk lebih mencintai diri dan menghargai diri.

Perlu Teman Bila ketahui nih ! kenapa sih kita perlu melakukan self care?

Yakni untuk kita bisa memberikan ruang rehat ketika stres, membuat diri lebih efektif dalam beraktifitas dan menjaga kualitas hubungan kita dengan orang lain.

Jangan takut dengan pikiran negatif dalam pikirannmu. Jangan takut untuk katakan, “Aku perlu waktu sendiri” jika kamu memerlukan waktu untuk sendiri. Dan perlu kamu yakini dalam diri dengan, “Aku tau cara untuk mencapai keinginanku, yang pasti aku bisa sukses”

Sering kali, kita berpikir bahwa menjadi yang terbaik artinya harus sukses, selalu positif, tidak pernah gagal. Namun menurut Dr. Brené Brown, penulis dan peneliti tentang keberanian dan kerentanan, kesempurnaan justru menjadi musuh dari keaslian. “Perfectionism is not the same thing as striving to be your best. It is the belief that if we look perfect, do everything perfectly, we can avoid the pain of blame, judgment, and shame,” tulisnya dalam The Gifts of Imperfection.

Menjadi yang terbaik versi diri kita sendiri bukan berarti bebas dari kekurangan. Tapi justru menerima bahwa kekurangan adalah bagian dari perjalanan kita.

Dalam proses menjadi versi terbaik dari diri sendiri, penerimaan diri adalah langkah pertama. Dr. Kristin Neff, pakar dalam bidang self-compassion, menjelaskan bahwa orang yang bisa menerima diri mereka apa adanya justru lebih mampu berkembang, karena mereka tidak terus-menerus dikendalikan rasa malu dan tekanan untuk terlihat sempurna.

Ketika kita menerima diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan, kita bisa mulai membangun identitas yang lebih sehat bukan berdasarkan penilaian orang lain, tapi berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini sendiri.

Mengejar versi terbaik dari diri sendiri seharusnya tidak membuat kita kelelahan atau kehilangan arah. Kita perlu bertanya:

Apakah jalan yang kita tempuh benar-benar membahagiakan, atau hanya untuk memenuhi ekspektasi luar?

Ketika kamu mengatakan ingin menjadi yang terbaik, apakah itu berdasarkan standar pribadimu atau ekspektasi dari luar?

Apakah kamu sudah menerima dirimu apa adanya, termasuk kekurangan yang kamu miliki?

Apa langkah kecil yang bisa kamu ambil hari ini untuk menjadi lebih dekat dengan versi terbaik dari dirimu sendiri tanpa harus menjadi sempurna?

Menjadi versi terbaik dari diri kita bukan soal membuktikan ke orang lain bahwa kita mampu, tapi tentang memberi ruang pada diri sendiri untuk tumbuh dengan kasih, bukan tekanan. Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk merasa cukup. Cukup menjadi diri sendiri yang terus belajar, berkembang, dan menerima segala prosesnya.

Karena pada akhirnya, versi terbaik dari diri kita adalah versi yang jujur, utuh, dan bahagia.

Ingat selalu ya Teman Bila !
Bahwa setiap individu memiliki caranya masing-masing untuk mencapai versi terbaik untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaannya. Caranya enggak perlu harus sama, bahagianya kamu sama orang lain tentunya memiliki perbedaan.

kamu hebat dan berhak bahagia untuk mencapai keinginanmu sesuai versi terbaikmu.

Referensi:

  • Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
  • Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.

Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *