Mengapa Kita Terluka?

Pernahkah kamu merasa sedih, kecewa, atau marah tanpa tahu pasti alasannya?

Atau justru tahu, tapi memilih menyimpannya sendiri, berharap waktu bisa menyembuhkan?

Luka dalam diri kita sering kali tak terlihat dari luar. Tidak ada darah, tidak ada perban, tapi rasanya menyakitkan dan membekas. Luka ini bisa datang dari berbagai hal: kata-kata yang menyakitkan, pengabaian, kegagalan, atau penolakan. Tapi pertanyaannya, mengapa kita bisa terluka?

Luka memang menyakitkan, luka juga sering kali meninggalkan duka. Namun, Ada banyak makna di balik luka.

Menurut Dr. Guy Winch, psikolog dan penulis buku Emotional First Aid, luka emosional sama nyatanya dengan luka fisik. Ia bahkan bisa bertahan lebih lama karena sering tidak ditangani dengan tepat. Rasa tidak dihargai, kehilangan, atau ditolak bisa mengganggu cara kita memandang diri sendiri dan dunia sekitar.

Dan ketika luka-luka itu tidak diproses, mereka bisa berkembang menjadi beban psikologis: kecemasan, depresi, kemarahan yang terpendam, atau bahkan ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain.

Mengorbankan diri kita untuk orang lain, yang sebenarnya kita pun masih memiliki kesulitan yang dijalani. BUKAN BERARTI, membantu sesama tidak diperbolehkan. Hanya saja kita memiliki kapasitas, membantu tetapi ada rasa paksanaan memang akan maksimal?

Luka tidak selalu bisa dihindari, tapi bisa disembuhkan. Dan salah satu langkah terpenting untuk menyembuhkan adalah menerima bahwa luka itu ada tanpa menyalahkan diri sendiri.

Kristin Neff, pelopor konsep self-compassion, menjelaskan bahwa orang yang mampu bersikap lembut pada dirinya ketika terluka cenderung lebih cepat pulih dan tidak tenggelam dalam rasa bersalah atau malu. Penerimaan diri tidak berarti pasrah, tetapi memberi ruang bagi luka untuk diakui, dipahami, dan akhirnya dilepaskan.

Coba kita refleksikan bersama:

Apa orang lain tau kamu sudah banyak mementingkan mereka ketimbang dirimu sendiri?

Apakah penghargaan atau pujian kamu harapkan didapatkan dari mereka yang kamu usahakan hingga melupakan dirimu sendiri sampai terluka?

Ketika kamu dalam kesulitan, apa mereka bersedia membantumu juga, sama besarnya dengan apa yang kamu lakukan?

Apa kamu dianggap oleh mereka orang yang sangat berarti?

Apakah kamu sedang memendam luka yang belum kamu beri ruang untuk sembuh?

Bagaimana kamu biasanya merespons rasa sakit menyembunyikannya, menyangkal, atau memakluminya?

Jika kamu bisa berbicara pada diri sendiri dengan lembut hari ini, apa yang akan kamu katakan pada luka-lukamu?

jawablah, dengan sejujur-jujurnya dari hatimu. Apa itu semua kamu dapatkan!

Tentunya, tidak semua terjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Pengorbanan hingga kita terluka pun, sebenarnya orang lain tidak tau, yang mereka tau hanya pada saat itu dan sewajarnya saja menanggapinya. Iya enggak sih?

Salah satu alasan kita bisa terluka adalah karena kita punya harapan, kebutuhan untuk diterima, dan keinginan untuk dicintai. Luka muncul ketika harapan itu tidak terpenuhi.

Namun, luka bukan tanda kelemahan ia adalah bukti bahwa kita hidup, merasakan, dan berani membuka diri. Menjadi manusia berarti bersedia menjalani hubungan, menghadapi risiko kehilangan, dan sesekali terjatuh.

Dalam psikologi, ini dikenal dengan istilah vulnerability (kerentanan). Menurut Dr. Brené Brown, kerentanan adalah akar dari koneksi manusia yang sehat. Kita terluka karena kita peduli. Dan dari sana, kita bisa belajar.

Kita terluka karena kita punya hati. Dan di balik setiap luka, selalu ada pelajaran tentang batas, harapan, keberanian, dan cinta. Luka bisa membuat kita lebih kuat, tapi hanya jika kita mau menengoknya dengan jujur dan penuh kasih.

Jadi, jika kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Luka itu mungkin menyakitkan, tapi ia tidak perlu kamu lawan sendirian. Kamu berhak sembuh. Dan yang paling penting—kamu tetap layak dicintai, bahkan dalam keadaan paling rapuhmu.

Referensi :

  • Winch, G. (2014). Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts.
  • Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
  • Brown, B. (2012). Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We Live, Love, Parent, and Lead.

Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *