Self Reflaction, Berkaca dan Kenali Diri

Kapan terakhir kali kamu benar-benar duduk diam dan bertanya:
“Bagaimana kabarku hari ini?”

Self-reflection, atau refleksi diri, adalah momen untuk berhenti sejenak, berkaca pada apa yang sudah dijalani, dirasakan, dan dipikirkan. Ini bukan soal menilai benar atau salah, tapi tentang mengenali pola-pola dalam diri—apa yang sedang kamu rasakan, mengapa kamu bertindak seperti itu, dan bagaimana kamu bisa bertumbuh dari sana.

Kadang kita lebih mengenal orang lain ketimbang diri kita sendiri. Merelakan bahkan mengorbankan keinginan diri untuk orang lain. Sebenernya salahkah apa yang aku lakukan ini?

Masa depan ada di genggamanmu bukan orang lain. Tetapi, kita perlu untuk meluangkan waktu untuk diri kita bisa mengetahui potensi yang termasuk kekuatan, kelemahan, nilai-nilai kehidupan, tujuan maupun motivasi untuk kita bisa menghadapi kehidupan ini dan tidak bergantung kepada orang lain.

Tapi, aku masih bingung cara memulainya? It’s okey, gapapa kita coba pelan-pelan yaa..

Pertama kita bisa lakukan, dengan jujur terhadap diri sendiri. Kenali diri dengan misalnya :

Aku beneran senang enggak ya kalau aku ambil keputusan ini?

Aku ikut kegiatan ini karena aku mau atau karena paksaan orang lain ya?

Aku beneran mau enggak ya buat bantuin dia, disaat aku lagi juga ada kesibukan?

Apa perasaan yang paling sering muncul dalam dirimu akhir-akhir ini? Sudahkah kamu memahaminya?

Apakah kamu lebih sering menjadi kritikus atau sahabat untuk dirimu sendiri?

Jika kamu bisa mengubah satu hal dalam cara kamu memperlakukan diri sendiri, apa itu?

cobalah untuk menjawabnya secara jujur ya..

Refleksi diri membantu kita memahami emosi, kebutuhan, dan motivasi yang kadang tersembunyi di balik rutinitas harian. Saat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan diri sendiri, kita sedang merawat kesehatan mental kita.

Menurut American Psychological Association, praktik refleksi diri dapat membantu meredakan stres, meningkatkan pengambilan keputusan, dan memperkuat kesadaran diri (self-awareness) yang semuanya penting untuk ketenangan batin.

Self-reflection bukan ajang menyalahkan diri, tapi kesempatan untuk jujur. Saat kita bisa melihat diri sendiri dengan utuh termasuk sisi yang belum sempurna kita memberi ruang untuk penerimaan diri. Ini adalah langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Self-reflection tidak harus rumit atau kaku. Bisa dimulai dari hal sederhana:

  • Menulis jurnal sebelum tidur tentang apa yang kamu syukuri hari ini.
  • Mengamati reaksi emosionalmu saat menghadapi konflikapa yang kamu rasakan, dan mengapa.
  • Menanyakan pada diri sendiri, ā€œApa yang sebenarnya aku butuhkan saat ini?ā€ bukan hanya ā€œApa yang harus aku lakukan?ā€

Dengan membiasakan ini, kamu akan lebih mudah memahami batas, keinginan, dan juga potensi dalam dirimu sendiri. Kebiasaan ini dapat diolah dengan mencoba cari tahu polanya, supaya kamu bisa benar-benar tahu apa yang kamu inginkan dan apa yang tidak.

Setelah itu, ambil hikmah dari setiap yang terjadi. Apapun yang kamu lalui, pasti terjadi karena ada alasan. Ambil pelajaran dari setiap yang kamu lalui, manis dan pahitnya rasakan dan jadikan sebagai sebuah pengalaman berharga. Pastikan kamu tidak melakukan kesalahan kembali yang sama ketika menghadapi situasi serupa.

Jadilah sebagai seorang yang pemaaf, untuk diri sendiri dan orang lain. Sebab, kamu harus menyadari bawa setiap diri atau orang lain pernah melakukan suatu kesalahan dan itu wajar jika tidak berlebihan dan berulang. JIka kamu belum melakukannya dengan baik, ya gapapa. Tanga salahkan dirimu, apalagi memberikan perkataan yang tidak baik. Kamu coba berikan afirmasi positif dengan, “kIta akan coba lagi di lain waktu, dengan lebih baik ya. Makasih diri dan maafkan aku belum bisa memberikan yang terbaik. Nanti aku akan berusaha kembali”. Ini jauh lebih baik, untuk memberikan respon kepada diri kita, dengan tidak menghakimi atau menyalahkan.

Dan terakhir, pantau segala kebiasaan. Cobalah dengan membuat jurnal tentangmu. Jadilah peneliti untuk dirimu sendiri, tentang apa saja hal yang kamu raih dan kesulitan apa saja yang pernah kamu lalui?

Kita cobra bersama refleksikan diri:

Apa yang bisa bikin aku bahagia?

Bagaimana cara aku mencintai diri sendiri?

Apa yang kamu pelajari hari ini atau minggu ini?

Apa yang paling utama dalam hidupku?

Apa yang membuatku bisa menjadi pribadi yang lebih baik?

Coba ya kenali diri dengan jawab sejujur-jujurnya, ini engga ada benar dan salah. Kamu hebat sudah bertahan sampai saat ini. Sola apresiasi dirimu dan yakinkan bahwa dirimu juga berhak untuk bahagia.

Self-reflection bukan tentang menyesali masa lalu, tapi tentang mengenali siapa dirimu hari ini dan ke mana kamu ingin melangkah. Ini adalah proses mencintai diri dengan cara yang paling jujur—dengan melihat, menerima, dan memperbaiki tanpa harus membenci.

Jadi, mungkin malam ini sebelum tidur, kamu bisa duduk sebentar, tarik napas, dan tanya pelan-pelan ke diri sendiri:
“Apa yang ingin aku pahami dari diriku hari ini?”
Jawaban yang muncul mungkin mengejutkanmu dan bisa jadi awal dari pemahaman yang lebih dalam terhadap dirimu sendiri.

Referensi:

  • American Psychological Association (2020). The Role of Reflection in Mental Health.
  • Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.

Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *