Pernah enggak sih temen Bila ngerasain, kalau kita mudah banget memasang topeng bahagia di depan orang lain. Padahal aslinya, kita menyimpan rasa sakit, kecewa ataupun sedih. Tapi, kita menyembunyikan itu agar orang lain tidak tau kalau kita sedang tidak baik-baik saja…
Berpura-pura bahagia, bikin capek ya?
KIta coba perlahan renungi, sebenarnya apa sih yang kita bisa dapatkan?
Apa mereka akan peduli ketika tau kita sebenarnya sedih dan menyimpan luka?
Apa mereka akan ada ketika kita dalam keadaan yang sebenarnya enggak baik dan mau berteman dengan kita?
Kenapa kita takut banget kehilangan itu, sampai-sampai kita merelakan diri kita sendiri..
Huft, capekkk yaaa, pengen nangiss rasanyaaaa..
Oke, kalau memang saat ini kamu lagi enggak baik-baik aja. It’s okey gapapa kok.
Coba berhenti sejenak dari kesibukanmu dan tanya ini ke dirimu sendiri:
- “Apakah aku bahagia dengan diriku sendiri?”
- Apa yang katukatkan saat ini?
- Apa kamu bahagia dengan dirimu saat ini?
- Apa yang ingin kamu sampaikan kepada mereka yang tau kamu pura-pura bahagia?
- Jika kamu jujur pada dirimu sendiri sekarang, apa jawabanmu atas pertanyaan: “Apakah aku bahagia dengan diriku?”
- Apa hal dalam dirimu yang sulit kamu terima sampai hari ini?
- Jika kamu bisa memperlakukan dirimu seperti sahabat terbaikmu, apa yang akan kamu katakan saat kamu sedang merasa tidak cukup baik?
Pertanyaan sederhana, tapi sering kali tidak mudah dijawab. Kita cenderung menilai kebahagiaan dari pencapaian, validasi dari luar, atau standar yang ditetapkan orang lain. Namun, jarang sekali kita benar-benar duduk dan menyadari apakah aku bahagia menjadi diriku, dengan segala kelebihan dan kekurangannya?
Padahal, kebahagiaan yang sejati sering kali tidak datang dari luar, tetapi dari bagaimana kita memperlakukan dan menerima diri sendiri..
Yuk, kita coba jujur dengan perasaan kita. Perlahan gapapa kok kalau kita memberitahu jika kamu lagi enggak baik-baik aja. Tapi, sewajarnya yaa..
Ehh, entah kenapa masih bingung caranya gimana untuk bisa terlepas dari “pura-pura bahagia itu” ?
Bingung apa yang harus dilakukan dulu?
Pasti kita terlintas kepikaran hal ini yaa…
Langkah awal yang bisa kita lakukan ialah dengan menerima hal-hal yang kita alami. Rasakan setiap emosi yang diterima. Setelahnya, kenali diri dan keinginan yang ingin dilakukan.
Menjadi bahagia dengan diri sendiri bukan berarti kita berhenti berkembang. Ini juga bukan berarti kita menutup mata dari kekurangan. Tapi ini soal menerima diri dengan jujur dan apa adanya, lalu memutuskan untuk tetap menyayangi diri kita di tengah proses pertumbuhan itu.
Dr. Kristin Neff, salah satu peneliti terkemuka di bidang self-compassion, menyebut bahwa orang yang memiliki penerimaan diri cenderung lebih stabil secara emosional, lebih bahagia, dan lebih termotivasi untuk berubah karena dorongan cinta, bukan karena rasa malu.
Self Acceptence atau menerima diri ini memang enggak mudah. Tapi enggak ada salahnya kita coba perlahan yaa. Menerima diri bisa dimulai dengan kita menerima seutuhnya dan atribut lainnya dalam diri dari positif dan negatif.
Tentunya, pasti susah.
Itu wajar kok, perlahan dengan kita menyadari bahwa semua manusia pastinya pernah memiliki kesalahan, kelemahan maupun kegagalan. Begitupun diri kita, maka cobalah untuk maafkan dan terima lebih dahulu. Selain itu, kita harus coba cari tau kelebihan dan keunggulan yang kita miliki, lalu coba asah lagi dan berterima kasih bahwa kamu sudah hebat.
Banyak orang merasa tidak bahagia dengan dirinya karena selalu merasa tidak cukup: tidak cukup sukses, tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, tidak sebaik orang lain. Perasaan ini bisa jadi akar dari stres, kecemasan, bahkan depresi. Kita jadi terlalu keras pada diri sendiri, membandingkan hidup kita dengan versi “ideal” di media sosial, atau terus hidup untuk menyenangkan orang lain.
Padahal, menerima diri sendiri adalah bentuk tertinggi dari penghargaan pada kehidupan kita sendiri.
Menurut penelitian dari American Psychological Association, orang yang bisa menerima diri dan memperlakukan dirinya dengan kasih sayang cenderung memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik, tidur lebih nyenyak, dan merasa lebih damai dalam kesehariannya.
Kabar baiknya, mencintai dan menerima diri sendiri itu bisa dilatih, sama seperti otot. Tidak harus langsung besar dan sempurna. Cukup dengan langkah-langkah kecil:
- Berhenti sejenak saat mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ingat bahwa hidup bukan perlombaan.
- Ucapkan kalimat positif untuk diri sendiri. Misalnya, “Aku mungkin belum sempurna, tapi aku sedang berproses.”
- Rayakan hal kecil yang sudah kamu capai. Bahkan bangun pagi saat kamu merasa sedih pun patut diapresiasi.
- Berikan ruang untuk gagal tanpa menghakimi diri sendiri. Karena kegagalan bukan musuh, melainkan guru.
Maka, kita coba bangkit dan membuat kebahagiaan dengan versi kita masing-masing. Hal sekecil apapun itu patut diapresiasi.
Bahagia dengan diri sendiri adalah proses, bukan hasil akhir. Ini adalah perjalanan pulang ke dalam—untuk mengenal, menerima, dan akhirnya mencintai diri kita apa adanya. Kita tidak butuh jadi versi orang lain untuk layak merasa bahagia. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri, sepenuhnya.
Dan jika hari ini kamu belum bisa berkata, “Aku bahagia dengan diriku,” tidak apa-apa. Yang penting kamu mau terus belajar mengenal dan merawat dirimu. Karena kamu layak dicintai, termasuk oleh dirimu sendiri.
Demikian, kita akan bisa jauh lebih bahagia dengan diri, memaafkan dan berterima kasih tentunya membuat kita merasa dihargai dengan diri sendiri. Jadikanlah, kebahagiaanmu yang membuat kamu bisa berjalan sesuai keinginanmu dengan kapasitas yang kamu miliki.
Makasih ya, kamu hebat banget udah bisa sampai sejauh ini.
Referensi:
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- American Psychological Association (2020). Self-Acceptance and Mental Health.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
