Pernahkah kamu merasa masa lalu seperti bayangan yang tidak bisa hilang?
Kenangan indah, luka, kesalahan, dan penyesalan yang terus menghantui, meski waktu sudah berlalu. Terkadang, kita merasa seperti tidak bisa maju atau bahkan tidak pantas untuk bahagia karena hal-hal yang terjadi di masa lalu.
Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita yang sering berjuang untuk berdamai dengan masa lalu, dan itu berhubungan erat dengan bagaimana kita merawat kesehatan mental dan penerimaan diri kita.
Kita semua punya masa lalu. Ada yang indah, ada yang penuh dengan tantangan, atau bahkan penuh penyesalan. Namun, satu hal yang pasti: masa lalu tidak bisa diubah.
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut “ruminasi“, yaitu ketika kita terus-menerus memikirkan peristiwa masa lalu yang tidak menyenangkan, berulang-ulang. Ini bisa merusak kesehatan mental kita, memicu stres, kecemasan, dan depresi. Menurut Dr. Susan Nolen Hoeksema, seorang psikolog dari Yale University, ruminasi bisa membuat kita terjebak dalam pikiran-pikiran negatif yang tidak produktif, sehingga kita tidak bisa bergerak maju.
Namun, kita memiliki kekuatan untuk mengubah cara kita merespons masa lalu. Menerima dan melepaskan masa lalu adalah langkah pertama untuk berdamai dan menemukan kedamaian dalam diri.
Penerimaan diri adalah konsep yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental. Ini berarti menerima diri kita secara utuh, dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. Penerimaan diri bukan berarti kita membiarkan kesalahan atau trauma masa lalu mendefinisikan kita, tetapi kita memberi izin untuk diri sendiri untuk belajar, tumbuh, dan bergerak maju.
Dalam bukunya The Gifts of Imperfection, Brené Brown menyatakan bahwa penerimaan diri adalah langkah pertama untuk bisa melepaskan beban masa lalu dan menjalani hidup yang lebih autentik. Saat kita bisa menerima diri kita, kita berhenti berfokus pada kesalahan yang pernah kita buat dan mulai melihat potensi untuk perubahan positif.
Masa lalu bukanlah sesuatu yang harus kita bawa sepanjang hidup kita. Banyak orang merasa terjebak dalam bayang-bayang kenangan atau kesalahan mereka, tetapi penting untuk diingat bahwa masa lalu tidak menentukan siapa kita sekarang dan siapa kita akan menjadi di masa depan.
Kita bisa memutuskan untuk mengambil pelajaran dari masa lalu dan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri kita sendiri. Dengan kata lain, kita bisa memutuskan untuk tidak membiarkan masa lalu mendefinisikan masa depan kita.
Mari kita refleksikan bersama:
Apa kenangan masa lalu yang masih sulit untuk kamu lepaskan? Mengapa itu masih mempengaruhi perasaan atau keputusanmu saat ini?
Bagaimana kamu bisa mulai menerima bagian dari diri yang terikat pada masa lalu?
Jika masa lalu tidak bisa diubah, bagaimana kamu bisa melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membawa kamu ke tempat yang lebih baik?
Masa lalu akan selalu menjadi bagian dari siapa kita, tapi ia tidak perlu mengendalikan hidup kita. Proses melepaskan masa lalu adalah perjalanan yang membutuhkan waktu dan usaha, tetapi itu adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan menemukan penerimaan diri yang lebih dalam.
Melepaskan bukan berarti melupakan, tetapi menerima bahwa kita adalah manusia yang tumbuh dari pengalaman baik atau buruk dan bisa memilih untuk tidak terjebak dalam penyesalan. Dengan menerima diri dan masa lalu, kita memberi ruang untuk kebahagiaan dan kedamaian di masa depan.
Maka, perlu disadari jika kita terjebak terlalu lama dalam kenangan masa lalu, hingga kita lupa bagaimana caranya hidup di masa kini. Yuk, mulai bangun dan bersiap untuk masa kini yang sedang menunggumu.
Referensi:
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
- Nolen-Hoeksema, S. (2000). The Role of Rumination in Depressive Disorders and Mixed Anxiety/Depressive Symptoms.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
