Keseimbangan Antara Real Self dan Ideal Self

Pernahkah kamu merasa seperti sedang menjalani dua kehidupan dalam satu tubuh?

Di satu sisi, ada kamu yang sebenarnya dengan segala kekurangan, kebiasaan aneh, dan keraguan. Itulah Real Self, diri yang nyata. Tapi di sisi lain, ada kamu versi ideal yang lebih disiplin, lebih sukses, lebih menarik, lebih “sempurna”. Itulah Ideal Self, bayangan diri yang ingin kamu capai.

Masalahnya muncul ketika jarak antara keduanya terlalu jauh. Kita mulai merasa gagal, tidak cukup baik, dan tidak layak. Seolah-olah kita hidup dalam ketegangan konstan antara siapa kita sekarang dan siapa yang seharusnya kita jadi.

Dan dari sinilah luka mental sering bermula.

Dalam teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Carl Rogers, Real Self adalah siapa diri kita saat ini dengan segala kondisi, perasaan, dan pengalaman hidup kita. Ideal Self adalah siapa kita ingin menjadi, biasanya dibentuk oleh harapan, standar sosial, atau nilai-nilai pribadi.

Keseimbangan antara keduanya sangat penting. Jika Real Self dan Ideal Self terlalu bertolak belakang, kita bisa mengalami tekanan batin, rendah diri, hingga kecemasan. Tapi jika kita mampu menjaga hubungan yang sehat antara keduanya, Ideal Self bisa menjadi motivasi yang mendorong pertumbuhan, bukan beban yang menindas.

Menurut Rogers, “semakin dekat Real Self dan Ideal Self, semakin tinggi tingkat kesejahteraan psikologis seseorang.”

Sering kali, kita berpikir bahwa untuk bahagia, kita harus menjadi versi ideal kita terlebih dahulu. Padahal, kesehatan mental bukan tentang menjadi sempurna—tapi tentang menjadi utuh. Tentang bisa menerima diri saat ini, sambil terus melangkah menjadi versi yang lebih baik.

Penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa orang yang mampu menerima keadaan dirinya saat ini—meski belum sesuai harapan—memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan hubungan sosial yang lebih sehat.

Ideal Self bisa menjadi bintang penunjuk arah, tapi Real Self adalah tempat kita berpijak. Keduanya harus berdialog, bukan saling menghakimi. Mari kita coba refleksikan bersama:

Apakah Ideal Self-mu dibentuk oleh nilai-nilai yang kamu yakini sendiri, atau oleh tekanan dari luar?

Apakah kamu sedang berusaha tumbuh, atau hanya berusaha layak untuk disukai?

Jika kamu bisa berbicara dengan dirimu yang sekarang tanpa menghakimi, apa yang ingin kamu katakan?

Menerima diri bukan berarti pasrah. Justru, itu adalah fondasi dari pertumbuhan yang sehat. Saat kita tidak lagi membenci diri karena belum menjadi ideal, kita punya lebih banyak energi untuk berkembang tanpa tekanan yang merusak.

Keseimbangan antara Real Self dan Ideal Self bukan tentang menyamakan keduanya, tapi tentang membangun jembatan: aku belum di sana, tapi aku dalam perjalanan. Dan aku cukup, bahkan saat belum sampai.

Kita semua ingin berkembang. Tapi pertumbuhan yang sehat datang dari tempat penerimaan, bukan dari ketakutan. Ketika kita berdamai dengan siapa diri kita hari ini, kita lebih siap menyambut siapa diri kita di masa depan.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang menjadi siapa-siapa tapi tentang merasa damai menjadi diri sendiri.

Referensi:

  • Rogers, C. (1961). On Becoming a Person: A Therapist’s View of Psychotherapy.
  • Journal of Personality and Social Psychology (2015). Discrepancy Between Ideal and Actual Self and Its Impact on Well-being.
  • Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.

Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *