Ada satu pertanyaan sederhana yang pernah membuat saya terdiam cukup lama:
“Apa yang sebenarnya aku inginkan, dan apa yang hanya ingin kulihat orang lain kagumi dariku?”
Di dunia yang gemar menilai dari tampilan luar, kita dengan mudah terjebak dalam kebutuhan untuk menonjol. Bukan karena kita sombong, tetapi karena kita takut tidak dianggap. Kita hidup dalam era validasi di mana pencapaian, penampilan, dan citra sering kali lebih penting daripada isi. Tanpa sadar, kita menyesuaikan hidup untuk memenuhi ekspektasi luar, dan bukan kehendak terdalam dari diri sendiri.
Sering kali, yang kita anggap sebagai “keinginan pribadi” sebenarnya adalah suara yang tertanam dari luar keluarga, masyarakat, bahkan algoritma media sosial. Kita belajar bahwa untuk bahagia, kita harus sukses. Untuk dicintai, kita harus tampil mengesankan. Untuk diterima, kita harus terlihat “berhasil”.
Namun, menuruti kehendak orang lain dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Menurut penelitian dari Journal of Counseling Psychology, individu yang terlalu fokus pada pencapaian eksternal cenderung mengalami tingkat kecemasan dan depresi lebih tinggi dibanding mereka yang hidup sesuai nilai-nilai pribadi.
Saat kita terus menyesuaikan diri dengan standar luar, kita mulai kehilangan kepekaan terhadap apa yang sebenarnya membuat kita merasa hidup.
Menonjolkan diri bukan selalu soal ego. Kadang, itu adalah bentuk rasa kurang aman yang tersamar. Kita ingin dilihat, karena di dalam ada bagian yang merasa tidak cukup. Kita ingin dipuji, karena kita jarang memberi pengakuan untuk diri sendiri.
Masalahnya, saat nilai diri bergantung pada respons orang lain, harga diri kita menjadi rapuh. Kita merasa senang ketika dipuji, tapi terpuruk ketika diabaikan. Dan itu melelahkan.
Dr. Brené Brown, seorang peneliti yang banyak menulis tentang keberanian dan kerentanan, mengatakan bahwa “belonging doesn’t require us to change who we are; it requires us to be who we are.” Kita tidak perlu menjadi seseorang yang mengesankan, cukup menjadi diri sendiri dan itu adalah bentuk keberanian sejati.
Penerimaan diri adalah jalan yang sunyi, karena sering kali ia tidak terlihat. Tapi di sanalah letak kekuatannya. Saat kita belajar menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan, tanpa pencitraan kita tidak lagi haus pengakuan.
Penerimaan diri memberi ruang untuk berkata: “Aku mungkin belum seperti yang orang lain harapkan, tapi aku cukup bagi diriku sendiri.”
Dan itu adalah bentuk kesehatan mental yang sejati ketika kita tidak lagi hidup dari sorotan, tapi dari dalam.
Mari kita refleksikan bersama:
Apakah selama ini kamu lebih sering menuruti keinginan hatimu sendiri, atau tuntutan dari luar?
Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu pamerkan, tapi tetap membuatmu bahagia?
Jika tidak ada yang melihat, tidak ada yang menilai apa yang tetap ingin kamu lakukan?
Hidup tidak harus selalu terlihat luar biasa untuk bisa terasa bermakna. Kadang, kebahagiaan datang bukan saat kita berhasil menonjol, tapi saat kita merasa cukup meski tidak dilihat siapa-siapa. Maka, dengan menuruti kehendak hati dan menampilkan diri apa adanya mungkin tidak membuatmu viral, tapi bisa membuatmu pulang ke diri sendiri dan itu jauh lebih damai.
Referensi:
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection. Hazelden Publishing.
- Journal of Counseling Psychology. (2017). Intrinsic vs. Extrinsic Goals and Mental Health Outcomes.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself. HarperCollins.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
