Persepsi Mengenai Diri dan Sikap Terhadap Penampilan

Berapa kali dalam sehari kamu bercermin?

Dan ketika bercermin itu, apakah yang kamu lihat membuatmu tersenyum? Atau justru kamu langsung sibuk mengoreksi kulit yang kurang mulus, tubuh yang tak sesuai standar, atau raut wajah yang tak seceria unggahan orang lain di media sosial?

Banyak dari kita tanpa sadar punya hubungan yang rumit dengan cermin. Bukan karena kita terlalu peduli pada penampilan, tapi karena kita terlalu keras pada diri sendiri.

Persepsi mengenai diri bukan cuma tentang siapa kita secara objektif, tapi tentang bagaimana kita melihat dan menilai diri kita sendiri. Dan bagian yang paling sering jadi sumber tekanan adalah penampilan fisik.

Menurut riset dari Psychology Today, banyak orang mengalami “distorsi tubuh”—di mana apa yang mereka lihat di cermin sering kali jauh lebih negatif dari kenyataan. Pikiran seperti “aku terlalu gemuk,” “aku jelek,” “aku gak layak tampil” bisa muncul meskipun tidak ada yang salah secara objektif.

Ketika persepsi negatif ini dibiarkan, dampaknya sangat besar turunnya rasa percaya diri, munculnya kecemasan sosial, bahkan gangguan makan dan depresi.

Kita tumbuh dalam budaya yang menjual “standar” penampilan ideal: tinggi, langsing, berkulit cerah, awet muda. Padahal tidak semua orang diciptakan untuk memenuhi cetakan yang sama.

Media sosial memperparahnya dengan filter dan konten “before-after” yang membuat kita terus merasa kurang. Kita jadi lupa: tubuh ini bukan pajangan, tapi rumah. Wajah ini bukan penilaian, tapi ekspresi kehidupan.

Menerima diri bukan berarti pasrah dengan keadaan, tapi berhenti berperang dengan tubuh sendiri. Itu artinya:

  • Kita merawat diri karena kita mencintainya, bukan karena membencinya.
  • Kita berpakaian untuk merasa nyaman, bukan untuk mendapat validasi.
  • Kita menilai tubuh bukan dari bentuknya, tapi dari bagaimana ia menampung seluruh kisah hidup kita.

Dr. Kristin Neff menulis bahwa self-compassion (belas kasih terhadap diri sendiri) sangat berperan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan penampilan. Ia membantu kita untuk tidak menjadikan tubuh sebagai medan kritik, melainkan sebagai tempat bertumbuh.

mari kita coba refleksikan bersama:

Ketika kamu melihat dirimu di cermin, apakah kamu sedang menilai atau sedang menghargai?

Dari mana kamu belajar bahwa tubuhmu harus “seperti itu” untuk bisa diterima?

Apa satu hal dari dirimu (fisik maupun non-fisik) yang ingin kamu syukuri hari ini?

Kamu tidak harus menunggu jadi lebih kurus, lebih putih, lebih “ideal” untuk merasa cukup. Kamu cukup sekarang. Kamu berharga sekarang.

Karena nilai diri bukan datang dari cermin, komentar orang, atau jumlah likes. Nilai diri datang dari tempat yang lebih dalamdari cara kamu mengenali dirimu sendiri, memperlakukannya dengan hormat, dan berkata dengan jujur bahwa, “Aku mungkin belum sempurna, tapi aku layak dicintai.”

Referensi:

  • Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
  • Cash, T. F. (2004). Body Image: Past, Present, and Future.
  • Psychology Today. (2020). Body Image and Mental Health: Understanding the Link.

Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !

admin

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *