Gak semua kritik itu buruk. Kadang, kritik bisa bantu kita berkembang. Tapi sering juga, kritik atau penolakan justru bikin kita ragu sama diri sendiri.
Kita mulai mikir, “Apa aku salah?” atau “Kenapa orang gak suka aku?” dan “Aku emang gak layak.”
Menurut penelitian, otak kita memproses penolakan seperti rasa sakit fisik. Jadi wajar banget kalau kamu merasa sakit hati. Tapi kabar baiknya, kita bisa belajar untuk merespons dengan lebih sehat.
Gak semua pendapat orang lain benar. Dan gak semua penolakan artinya kamu gagal. Kadang, kamu ditolak bukan karena kamu jelek, tapi karena memang belum cocok. Kadang kamu dikritik bukan karena kamu salah, tapi karena orang lain melihat dari sudut pandangnya sendiri.
Bedakan antara kritik membangun dan komentar menjatuhkan.
Kamu gak harus disukai semua orang dan kamu juga gak harus sempurna dulu baru layak dihargai.
Saat kamu bisa menerima dirimu dengan kelebihan dan kekurangan. Maka, penolakan gak akan terasa seberat dulu. Kamu tetap bisa sedih, tapi kamu tahu itu bukan akhir dunia. Kamu tahu, dirimu tetap berharga walau ditolak sekalipun.
Mari kita coba refleksikan bersama:
Saat terakhir kamu dikritik, apa yang kamu rasakan? Apakah kamu langsung merasa rendah diri?
Kamu pernah gak mencoba terlalu keras menyenangkan orang lain supaya gak dikritik?
Apa hal baik dari dirimu yang tetap ada, walaupun kamu pernah ditolak?
Hidup gak selalu adil, dan gak semua orang akan paham kamu. Tapi kamu tetap bisa memilih mau jadi orang yang terus mencoba jadi sempurna demi diterima, atau jadi orang yang bisa menerima diri dan belajar tumbuh dari setiap pengalaman.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana dunia menilai kamu—tapi bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri.
Referensi ringan:
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- Eisenberger, N. et al. (2003). Penolakan itu terasa sakit karena otak kita menganggapnya serius.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
