Pernah gak kamu merasa iri saat melihat pencapaian orang lain, lalu secara gak sadar kamu mulai merendahkan dirimu sendiri?
Atau sebaliknya, kamu terlalu fokus pada kelemahan seseorang sampai lupa bahwa setiap orang juga punya sisi kuatnya?
Kita hidup dalam dunia yang sering kali menyoroti kelebihan yang cepat, yang pintar, yang produktif. Tapi jarang memberi ruang bagi kelemahan yang lambat, yang takut, yang gagal. Akibatnya, kita tumbuh dengan standar yang tidak seimbang: kita menghargai kekuatan, tapi malu akan kelemahan.
Padahal, dua-duanya adalah bagian dari diri. Dan cara kita bersikap terhadap kekuatan maupun kelemahan baik pada diri sendiri maupun orang lain akan sangat memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan kita menerima diri dengan utuh.
Mengenali kekuatan diri penting, bahkan perlu untuk menjadi sumber semangat, keyakinan, dan arah kita melangkah. Tapi saat kekuatan jadi beban misalnya, harus selalu tampil sempurna, gak boleh salah, atau takut mengecewakan. Maka kita mulai kehilangan rasa aman dalam diri.
Menurut Dr. Kristin Neff, terlalu fokus pada “kekuatan” tanpa kasih sayang pada diri saat gagal bisa menimbulkan tekanan mental, bahkan kelelahan emosional. Kesehatan mental butuh ruang untuk tidak selalu jadi “yang terbaik” cukup jadi diri sendiri, dengan segala keterbatasan.
Kita sering belajar menyembunyikan kelemahan. Takut terlihat lemah. Takut dianggap gagal. Tapi menerima kelemahan bukan tanda menyerah itu adalah bentuk kejujuran dan keberanian.
Dalam buku The Gifts of Imperfection, Brené Brown menulis bahwa kerentanan (vulnerability) bukan kelemahan, tapi jembatan untuk koneksi dan keberanian. Saat kita mengakui kelemahan, kita lebih mudah merasa terhubung, tidak sendirian, dan jauh lebih sehat secara emosional.
Menilai orang hanya dari kelemahannya membuat kita jadi pribadi yang keras dan mudah kecewa. Tapi terlalu mengagumi kekuatan orang lain juga bisa membuat kita merasa rendah diri.
Sikap sehat adalah menerima bahwa semua orang, termasuk kita, punya dua sisi dari kekuatan dan kelemahan. Saat kita mampu melihat orang lain secara utuh, kita juga belajar melihat diri sendiri dengan lebih adil.
Mari kita coba refleksikan bersama:
Apa kekuatan yang kamu miliki, tapi justru membuatmu merasa tertekan untuk selalu “tampil baik”?
Apa kelemahan yang kamu miliki, dan selama ini kamu sembunyikan karena takut dihakimi?
Bisakah kamu mulai melihat orang lain bukan hanya dari kekurangannya, tapi juga dari sisi baiknya?
Jika kamu memperlakukan diri sendiri seperti kamu memperlakukan sahabatmu, apakah kamu akan lebih lembut?
Keseimbangan antara mengakui kekuatan dan menerima kelemahan adalah inti dari penerimaan diri. Dan saat kita bisa menerima diri dengan cara itu, kita pun lebih mudah menerima orang lain. Tidak terburu-buru menghakimi, tidak cepat merasa rendah diri.
Karena pada akhirnya, kita semua manusia. banyak hal yang bisa dibanggakan dan juga penuh bagian yang masih perlu dimengerti dan dirawat.
Referensi:
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
- Journal of Positive Psychology (2017). Self-acceptance and mental health: Understanding strengths and limitations.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
