Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu penuh aturan, rencana, dan ekspektasi? Rasanya seperti setiap hari hanya diisi oleh to-do list dan target yang harus dicapai, sampai lupa bagaimana rasanya menikmati hidup. Dalam kondisi seperti ini, kesehatan mental kita bisa perlahan terkikis. Kita mulai merasa cemas, lelah secara emosional, bahkan kehilangan arah.
Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu penuh aturan? Penuh jadwal, tenggat, dan target yang terus menumpuk, sampai kamu lupa rasanya melakukan sesuatu hanya karena kamu ingin, bukan karena kamu harus?
Atau pernahkah kamu bangun di pagi hari dan memutuskan melakukan sesuatu yang di luar rencana—berjalan kaki tanpa arah, menelepon sahabat lama, atau sekadar duduk di taman menikmati angin sore?
Saya pernah dan mungkin kamu juga.
Di suatu pagi yang lelah, saya memutuskan untuk berjalan kaki tanpa tujuan. Tidak ke kantor, tidak ke kafe, tidak juga ke tempat yang “produktif”. Saya hanya ingin jalan. Melihat pohon, merasakan angin, mendengar langkah kaki saya sendiri. Tindakan sederhana dan spontan itu ternyata membawa ketenangan yang tidak saya dapatkan dari pencapaian mana pun.
Kadang, yang kita butuhkan bukanlah liburan mahal atau pencapaian besar. Terkadang, cukup dengan sedikit spontanitas—membiarkan diri tersenyum karena hal kecil, menikmati secangkir kopi tanpa gangguan, atau berjalan tanpa tujuan sambil menikmati suasana sore. Spontanitas bukan berarti hidup tanpa arah, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan hidup dengan lebih utuh, tanpa harus terus dikendalikan oleh tekanan atau rutinitas..
Di tengah ritme hidup yang serba terencana dan cepat, spontanitas menjadi seperti kemewahan. Kita terbiasa mengejar target, memenuhi ekspektasi, dan merancang segala sesuatunya sedetail mungkin. Namun, hidup yang terlalu dikontrol justru bisa menjadi tekanan. Menurut American Psychological Association (APA), terlalu fokus pada kontrol dan perfeksionisme dapat meningkatkan risiko stres kronis dan gangguan kecemasan.
Sebaliknya, membiarkan diri mengalami hal-hal secara spontan dapat menumbuhkan rasa syukur dan penerimaan diri. Saat kita membuka ruang untuk ketidakpastian, kita belajar menerima hidup sebagaimana adanya—tidak selalu sempurna, tetapi tetap berharga.
Spontanitas bukan tentang meninggalkan tanggung jawab, tapi tentang memberi ruang bernapas untuk diri sendiri. Di tengah hidup yang serba terjadwal dan penuh ekspektasi, spontanitas menjadi bentuk perlawanan kecil—yang sehat.
Menurut penelitian dari American Psychological Association, terlalu banyak tekanan dan kontrol dalam hidup bisa meningkatkan stres kronis dan memperburuk kondisi kesehatan mental. Sebaliknya, tindakan-tindakan spontan bisa memicu hormon dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan puas. Bahkan sesederhana mengganti rute pulang, memilih makanan baru, atau meluangkan waktu tanpa rencana, bisa menjadi bentuk healing yang alami.
Ketika kita membiarkan diri hidup lebih spontan, kita sebenarnya sedang belajar menerima. Menerima bahwa kita tidak harus selalu “berhasil”, “hebat”, atau “pantas dipuji” agar bisa merasa cukup. Kita belajar bahwa diri kita tetap layak dicintai, bahkan ketika tidak ada pencapaian yang bisa dibanggakan hari itu.
Konsep ini dikenal dalam psikologi sebagai self-compassion, atau kasih sayang terhadap diri sendiri. Dr. Kristin Neff, peneliti dari University of Texas, menjelaskan bahwa orang yang punya self-compassion justru lebih mampu mengatasi kegagalan, karena mereka tidak menghakimi diri dengan keras.
Mari kita coba refleksikan bersama:
Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu hanya karena kamu ingin, bukan karena kamu harus?
Jika kamu punya satu jam hari ini tanpa kewajiban, apa yang ingin kamu lakukan?
Apakah kamu merasa cukup, bahkan ketika tidak sedang produktif?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak mudah, tapi sangat penting. Karena dari sana kita bisa melihat, apakah kita benar-benar hidup… atau hanya sekadar bertahan.
Kita sering mengira bahwa kebahagiaan datang setelah semua rencana selesai, setelah semua masalah teratasi. Padahal, kebahagiaan sering bersembunyi di momen-momen kecil yang tidak kita rencanakan dalam tawa yang spontan, pelukan yang tiba-tiba, atau langkah kaki ke arah yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Menikmati hidup bukan tentang liburan mewah, atau pencapaian besar. Tapi tentang kemampuan untuk hadir sepenuhnya di sini, sekarang dan berkata, “Aku bersyukur bisa merasakan ini.”
Jadi hari ini, bolehkah kamu meluangkan sedikit waktu untuk tidak melakukan apa-apa? Atau lebih tepatnya, melakukan sesuatu yang tidak direncanakan?
Mungkin dari situlah kamu bisa mulai menemukan kembali dirimu yang sebenarnya.
Referensi:
- American Psychological Association. (2020). Stress in America: A National Mental Health Crisis.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
Teman Bila juga bisa dengarkan di Spotify di bawah ini !
